Curhat : 8 Alasan Telemarketer sangat menyebalkan

Curahan hati ini sekaligus ditujukan ke Telemarketer di Indonesia. Konon katanya data kita di Bank itu bisa dibeli. Nah, sekali punya kartu kredit siap-siap aja ditelpon Telemarketer dengan berbagai macam penawaran.

Kebetulan aku punya 5 kartu kredit, bayangkan aja, minimal 2 penelpon dari 1 Bank, itu baru dari 1 Bank, coba kalikan 5, belum lagi penawaran dari Bank yang aku nggak ada hubungannya sama sekali, ditambah lagi penawaran asuransi, pinjaman, dll.

Dulu beberapa Telemarketer masih telpon dengan nomor kantor, sekarang mereka udah pintar, mereka telpon pakai nomor HP pribadi. Dalam seminggu aku pernah dapat telpon dari 3 nomor GSM dan 2 nomor CDMA ternyata dari orang yang sama. Aku selalu angkat karna takutnya ada telpon penting, tapi ternyata Telemarketer.

Awalnya kuladeni baik-baik, lama kelamaan malah memancing emosi. Aku selalu dapat telpon setiap waktu dari orang yang berbeda. Aku sebenarnya nggak menyalahkan mereka, mereka khan cari uang, dengar-dengar sih Telemarketer itu nggak dapat gaji tetap, sumber penghasilan mereka dari penawaran itu, kalau mereka sukses mendapatkan 1 orang aja lumayan besar bonusnya. Berikut poin-poin yang akan kubahas.

1. Ngerocos
Hebatnya Telemarketer bisa ngomong dengan cepat tanpa ada jeda. Bayangkan aja kalau baca kalimat tanpa spasi dan tanda baca. Begini contohnya “SiangbubisamintawaktunyasebentarsayaAnidariBankABC”. Rapper aja masih ada jeda kalau nge-rap. Mau banget rasanya aku tanya “Mbak/Mas daritadi nggak napas ya?”. Ini sama sekali buat aku nggak tertarik walaupun penawarannya mungkin aja menarik.

2. Siapa dirimu?
Telemarketer : “……….(menawarkan jasa)……..ibu berminat?”
Aku : “Maaf saya nggak berminat”
Telemarketer : “Kenapa?”
Tiap orang punya alasan tersendiri untuk menolak dan kenapa harus mau tau? Siapa dirimu?

3. Memaksakan waktu
Telemarketer : “……….(menawarkan jasa)……..”
Aku : “(potong pembicaraan) Maaf saya lagi sibuk jadi..”
Telemarketer : “(potong pembicaraan juga) Masa nggak ada waktu sedikitpun sih, bu? Sebentaaar aja”
Aku : (tutup telpon)
Masa aku harus ceritakan sesibuk apa kerjaanku? Aku tulis blog aja jarang dan kalau senggang.

4. Sok jadi teman
Si Telemarketer kadang telpon ke rumah dengan menyebutkan nama, bukan menyebut tempat kerja mereka. Malah ada yang bilang “dari temannya”.

5. Berasa jadi buronan
Aku banyak simpan nomor para Telemarketer, biasanya mereka sering telpon berulang kali. Disaat weekend dan kebetulan lagi dirumah, aku nggak angkat HP-ku, langsung pada saat itu juga telpon rumahku bunyi, kuliat caller ID ternyata orang yang sama.

6. Paksaan pinjaman
Telemarketer : “……….(menawarkan jasa)……..jadi bunga pinjamannya hanya sekian persen”
Aku : “Maaf saya lagi nggak butuh pinjaman”
Telemarketer : “Nggak apa-apa bu, pinjamannya diambil aja siapa tau butuh nanti”
Aku : “Loh, saya khan nggak butuh, kenapa juga saya harus ambil pinjaman? Berarti saya harus bayar bunga per bulan, rugi dong saya”
Telemarketer : “Oh ya begitu ya bu, kalau gitu kabari saya kalau butuh ya (tutup telpon)”

7. Paksaan kartu kredit diskon
Telemarketer : “Jadi kartu ini bisa dipakai shopping di Plaza Indonesia, biaya kartu kreditnya sekian per tahun”
Aku : “Maaf saya udah punya 5 kartu, saya nggak suka shopping jadi saya nggak butuh”
Telemarketer : “Ambil aja, bu. Diskonnya lumayan loh”
Aku : “Kalau mbak mau bayarin biaya per tahunnya sih nggak apa-apa, khan saya bilang nggak butuh”
Buat apa aku terima kartu kredit yang aku nggak akan pakai?

8. Email
Aku kadang masih berbaik hati suruh mereka email aja penawaran mereka. Tapi banyak yang nggak mau dan jawab dengan berbagai alasan. “Wah penawarannya nggak bisa di email, bu. Harus lewat telpon”. Menurutku kalau di email kemungkinan aku bisa tertarik karna aku akan baca seksama, tapi kalau ditelpon dan ngerocos terus gimana aku cerna?

Maaf buat Telemarketer yang tersinggung, aku harap dengan adanya tulisan ini cara kerja kalian lebih baik dan bisa hargai orang.
Punya pengalaman dan unek-unek Telemarketer yang menyebalkan? Tinggalkan komentar aja biar semua orang bisa baca.

13 thoughts on “Curhat : 8 Alasan Telemarketer sangat menyebalkan

  1. Wesli Sinaga July 1, 2015 / 9:52 pm

    Ya begitulah jobdesc dari telemarketing. Nawarin produk via telepon. Namanya juga Tele Sales (TSO). Sebenernya gw kasihan sama telemarketing. Mereka kan juga nyari duit, nyari makan, dari calon2 nasabah kalau di perbankan. Jadi sebaiknya kita juga harus punya manner ke mereka… Hehe.. 😀

    • akak May 4, 2017 / 6:21 pm

      Kalau telemarketer tsb ingin dihargai usaha mereka ya nggak usahlah memaksa terus mereka dapet no hp dari siapa, dari situ aja mereka udah salah. Telepon mereka mengganggu sekali, emang telemarketer itu mau diganggu saat kerja?

  2. ratna wulansari November 11, 2013 / 1:07 pm

    yg nomor 5 kejadian sama dokter yg aku asistenin waktu kerja. sampe2 aku disuruh dokter ngaku jadi istrinya dan marahin tuh telemarketer karna ganggu dokter lg kerja, pas dia nanya kapan ada waktu aku disuruh bilang sama si dokter di lembaran memo “bilang, kalo berani hubungi suami saya lg Anda saya tuntut” hahaha udah stress dokterku itu karna orangnya memang ga bisa marah2 😀

Apa komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s