Ternyata ada suster mesum di rumahku

blink 182 enema of the state cd coverCerita ini aku alami waktu pertengahan tahun 2008, waktu itu papaku kena stroke baru keluar rumah sakit.

Mama direkomendasi satu yayasan penyalur suster dari temannya, gaji suster waktu itu 1.5 juta per bulan dan itu bukan suster yang benar-benar profesional seperti di rumah sakit.

Kalau mau yang profesional seperti di rumah sakit, 6 juta per bulan (kata suster di rumah sakit yang tadinya mau rekomendasi yayasan penyalur suster profesional).

Akhirnya, seorang suster muncul dirumahku, Suster Ros, umur 40an dan udah beranak 3, badan bongsor dan muka sama sekali nggak menarik (nggak mungkin seperti gambar ilustrasi suster di atas). Bagus lah, kalau terlalu menarik nanti malah memikat pekerja bangunan di sekitar rumah.

Perjanjian dari yayasannya, suster berhak ambil cuti 1 hari tiap bulan. Si suster ini selalu akumulasi cutinya, kadang 3 – 5 bulan nggak ambil cuti, jadi sekali cuti berhari-hari. Yah akhirnya kami sekeluarga yang jaga papa selama suster cuti.

Suster selalu alasan kalau setiap cuti pasti dia pulang ke rumah, dan setiap kali cuti pasti selalu lebih dari hari yang dijanjikan. Misal awal janjinya cuti 3 hari, eeh 5 hari pun dia belum pulang juga dan nggak kasih kabar.

Akhirnya kami minta nomor HP suaminya karna tiap cuti, suster selalu susah dihubungi, kadang nggak diangkat atau HP dimatikan.

Setelah setahun, kami sering dengar suster telponan di teras rumah dengan nada mesra dan kami yakin bukan orang yang sama, karna beberapa kali kami dengar “kerja dimana?”, “tinggal dimana?”.

Nggak mungkin khan kalau ngomong sama suami tapi tanya pertanyaan itu? Kami nggak peduli masalah pribadinya, yang penting si suster kerja dengan benar.

Lama kelamaan, kerja si suster ini makin nggak beres. Tiap kali kalau dibutuhkan pasti nggak tau hilang kemana, dicari-cari nggak ada, yang awalnya hobi telponan di teras rumah, makin hari telponnya malah di luar rumah dan jauh dari rumah, mungkin biar telponannya nggak terganggu. Sampai mama sering minta tolong pembantu kami untuk cari si suster di sekitar komplek rumah.

Kesibukan sama HPnya malah makin sering, kalau lagi antri check up di rumah sakit, di ruang tunggu malah sambil telponan, karna berisik dan mengganggu, aku suruh dia telponan jauh dari ruang tunggu.

Walau papa stroke, papa cuma lumpuh tapi bisa ngomong. Papa bilang, waktu suster lagi bawa papa keliling komplek (pakai kursi roda) sambil berjemur matahari, suster malah telponan terus.

Beberapa kali dia selalu minta aku ajarkan untuk save nomor di HPnya, tiap aku ajarkan dia belum bisa-bisa.
Tiap dia minta aku ajarkan untuk save nomor, dia selalu bawa buku catatan kecil hotel beda-beda.

Aku sempat curiga sih, dia dapat dari mana notes beginian? Setauku buku notes berlogo hotel ya cuma ada di meja hotel dan kalau dia nginap di hotel itu bisa aja dia ambil.

Kami tahan-tahan walau kelakuan suster begitu, karna cari suster yang badannya bongsor susah. Papa tinggi kekar, sebelum ini suster yang mama dapat semua kurus kecil pendek, nggak ada yang sanggup bantu papa berdiri dari ranjang ke kursi roda dan sebaliknya.

Suatu sore, Suster ijin pulang 2 hari katanya ada kepentingan rumah, ya kami ijinkan.

Baru beberapa lama suster pergi, hansip komplek yang kami kenal mampir ke rumah, si hansip tanya ke aku, “Kok tumben susternya nggak naik angkot? Biasa kalau pulang kan naik angkot, ini tadi dijemput cowok naik motor”.

(Biasa hansip komplek kami selalu lapor kalau ada yang menurut mereka mencurigakan, misalnya kalau pembantu kami mau pulang kampung, salah satu hansip pasti datang ke rumah untuk konfirmasi apa benar pembantu kami ijin pulang kampung.)

“Ah mungkin itu suaminya kali”, kataku.

Kakakku langsung menyarankan telpon suaminya untuk memastikan, karna suster kerja dan tinggal di rumah kami ya tandanya masih tanggung jawab kami, kalau suster kenapa-kenapa khan kami juga yang harus tanggung jawab.

Kami coba telpon suaminya dan diangkat! Aku juga sempat heran, kalau tadi suster dijemput suami, mana mungkin suaminya bisa angkat telpon sambil naik motor.

Kakak : “Pak, ini tempat kerja suster Ros, tadi suster jam 4 sore ijin pulang katanya ada kepentingan rumah..”

Suami suster : (kalimat belum selesai, suaminya langsung memotong) “hah? pulang? dia nggak bilang mau pulang, dia juga jarang pulang”

Kakak : “Loh tadi kata hansip komplek dijemput sama cowok naik motor, saya kira suaminya jemput.”

Suami suster : “Ya sudah saya coba telpon dia dulu, makasih ya”

Nah ketauan deh bohong!

Setengah jam kemudian ada yang pencet bel rumah, ternyata suster pulang. Si suster marah-marah, “Tadi telpon suami saya ya? Kenapa sih harus telpon suami saya? Suami saya ngamuk ke saya.”

Mama : “Kamu kenapa harus bohong?”

Suster : “Suami saya telpon saya ngamuk-ngamuk”

Kakak : “Siapa suruh bilangnya cuti tapi bohong, malah ketemu cowok”

Mama : “Suami kamu bilang kamu jarang pulang, jadi selama cuti ini kamu kemana?”

Suster : “Jangan ikut campur urusan saya deh, saya sebagai perempuan juga punya kebutuhan”

Aku : “Kalau kamu punya kebutuhan ya silahkan, nggak usah kerja jadi suster, cari kerja yang sekalian jadi kebutuhan kamu”

Di hari itu juga, suster dipecat dan mama lapor ke yayasan.

18 thoughts on “Ternyata ada suster mesum di rumahku

  1. novitary July 21, 2015 / 1:11 pm

    Patut di curigain kalau suster yg suka main hape terus… Dan teleponan sama cowok gak jelas. Sulit sekali ya jaman sekarang cari suster/asisten rmh tangga yg kerjanya bagus… Kalau memang masih bisa mengurus orgtua ya lebih aman sendiri… Pakai jasa suster juga masih di awasin sama org rumah

  2. mita December 27, 2014 / 7:32 pm

    Suster itu pekerjaanya halal dan dia sebenaarnya ingin nyari duit buat keluarganya tapi mungkin caranya saj yang saalah

  3. ariwer October 29, 2014 / 4:28 pm

    jangan pernah kerja jdi suster& pembantu.lebih mending jualan kopi di pinggir jalan.kerja ikut orang hanya jdi anjing2 pesuruhny.apa lg klu yg nyuruh WNA amit2 indonesia rumah kita lay….

    • F Vian (MySuperLounge) October 29, 2014 / 11:58 pm

      suster dan pembantu itu kerjaan yg mulia kok. ya jangan pandang dari satu sisi aja, nggak semua suster dan pembantu direndahkan, dan nggak semua majikan itu brengsek.

Apa komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s