Pengalaman ditodong sumbangan, imbalannya voucher gratis

donation fundWaktu aku lagi makan siang sendirian di Bakmi Naga, tiba-tiba ada suara perempuan dari meja sebelah manggil “Permisi Kak”, aku noleh.

Ada 3 perempuan yang lagi duduk bareng. “Kami mahasiswi nih, mau tanya bentar aja boleh?”
Aku jawab boleh.

Si A berdiri, “Sendirian aja ya Kak, boleh duduk sini?”, aku ngangguk.

B dan C akhirnya ikut duduk sebelah si A, persis didepanku.

A : Cuma bentar aja kok, satu dua menit aja.

Ha! Satu dua menit? Mustahil, aku pipis aja lebih lama dari itu. Ah palingan juga 12 menit (satu dua menit).

*Aku udah biasa menghadapi orang-orang yang begini, palingan juga promosi kartu kredit, produk, atau sumbangan. Biasanya aku langsung tolak, tapi berhubung aku lagi makan ditempat, aku yakin banget mereka pasti terus ajak ngomong, cuma bisa stop promosi kalau kita menghindar.*

*Aku ngangguk aja sambil makan dan tatapan mataku nggak lepas dari layar smartphone.*

A : Kakak udah tau penyakit X belum?

*Aku ngangguk lagi dan jariku sibuk ketik balasan di Whatsapp*

A : Oke udah tau ya Kak, jadi gini, khan penyakit X ini ditemukan waktu……….*ngomong panjang lebar dengan cepat tanpa nafas sampai sekitar 5 menit lebih*

(Akhirnya si B keluarkan seperti buku kecil dan ada tulisan Rp 100.000 di pinggirannya)

*Oh, udah biasa nih sumbangan yang mengatasnamakan yayasan atau organisasi*

B : Nah jadi kita bukan minta sumbangan kok, kita mahasiswi juga tau diri. Jadi kakak keluarin uang 100 ribu untuk yayasan ini, kakak juga dapet banyak voucher gratisan loh. Nah kalau kakak suka minum kopi, nih ada vouchernya loh, ada voucher belanja juga, trus ada voucher makanan juga nih di cafe. Nggak rugi khan? Jadi kakak sama aja kayak beli voucher sebanyak ini cuma dengan harga 100 ribu aja, sekalian amal pula.

*Aku biarkan aja mereka asik ngomong sendiri, aku cuma ngangguk-ngangguk aja*

Aku : Wah, 100 ribu sih nggak ada. Emang harus minimal 100 ribu ya?

C : 100 ribu buat kakak jelas kecil banget khan kak, kakak aja bisa makan di mall.

*Sok tau amat ini orang, walau aku makan di mall, aku lagi makan menu yang seharga 17.500 doang dan es teh manis*

Aku : Maaf banget ya, nggak cukup uangnya

*Memang ada uang lebih dari 100 ribu di dompetku, tapi itu jatah wajib untuk keperluan medis mama (jarum suntik, pen insulin, obat-obatan, dll) yang harus aku beli setelah selesai makan siang. Aku nggak perlu jelaskan alasan apapun, karna orang seperti ini nggak akan terima apapun alasan orang lain*

B : Kakak punya e-banking? Kakak transfer aja sambil aku isiin datanya deh (sambil buka halaman bagian data diri)

A : atau ATM? di bawah khan ada ATM, yuk kami temenin

Aku : Bawanya kartu kredit

*penasaran nih apa jawaban mereka*

C : kartu kredit khan bisa diambil dananya, dibawah ada ATM tuh, kakak kartunya apa?

Nah! Apapun jawabannya pasti mereka siap penangkalnya.
Aku cuma bisa ketawa dengar si perempuan yang ngakunya mahasiswi ini gencar nodong sumbangan. Kalau mereka punya pacar dan kebiasaan nodongnya masih dipelihara, bakal kabur deh pacarnya.

Kebetulan aku udah selesai makan dan udah langsung bayar waktu pesanan datang, jadi aku langsung pamit, “Jalan dulu ya, dadahh..”

Untungnya mereka nggak ikuti aku, padahal udah kepikiran kalau mereka ikuti aku, aku mau akting seperti sinetron yang dialognya “CUKUP! aku sudah muak dengan kalian!”

___

Mungkin untuk sebagian orang yang baca tulisan ini menilai aku jahat nggak mau nyumbang, tapi ada banyak alasan yang mau aku jelaskan disini.

Nggak heran banyak orang yang nggak mau nyumbang, termasuk aku. Bukan karna nggak ada niat baik, tapi kadang niat baik orang disalahgunakan. Berhubung orangnya maksa BANGET, banyak orang yang nggak enakan dan segan, dengan terpaksa mereka beli deh.

Awalnya mereka ngaku bukan minta sumbangan, dari awal aja udah bohong, siapa sih yang mau dibohongi? Sakitnya tuh disini, didalam hatiku.

Sumbangan dengan imbalan voucher makan atau belanja. Disaat orang nggak nyumbang, eh diiming-iming kalau sumbang khan dapat voucher banyak. Tapi sumbangnya harus jumlah yang ditentukan, 100 ribu, lho ini kok jadi kesannya jualan voucher sih? Aku sih jujur nggak tertarik sedikitpun dengan voucher seperti itu, kalau aku niat nyumbang ya memang murni mau bantu, tapi aku mau sumbang dengan jumlah uang semampuku.

Banyak penipuan yang ngaku dari yayasan panti asuhan, organisasi kesehatan, dll.
Memang banyak sih penipuan yang ngakunya yayasan, tapi kalau memang yayasannya jelas dan butuh, orang yang mintain sumbangannya itu loh yang bikin orang trauma sama yang namanya sumbangan.

Nominal sumbangannya kok ditentukan?
Buatku sih ini pemaksaan namanya, namanya sumbangan khan sukarela, kok main ditentukan gitu aja sih. Kalau misal minimal sumbangannya 100 ribu, apa mereka memang udah niat cari target orang yang kira-kira mampu kasih 100 ribu dengan gampang?

Seenaknya orang itu bilang 100 ribu itu nominal yang kecil untukku.
Enak aja dibilang 100 ribu itu kecil. Mereka nggak tau kebutuhan orang yang lebih penting bisa dibeli dengan 100 ribu (mereka nggak akan mau tau juga), dan 100 ribu itu uang yang lumayan banget untuk sebagian orang, bisa untuk ongkos pulang, kadang untuk jatah seharian atau berhari-hari, atau keperluan mendadak yang nggak terduga.

Mereka mau temani aku ke ATM??
Loh, udah minta sumbangan, maksa pula. Ini sih nodong namanya.

Aku lebih senang nyumbang langsung ke tempat yang jelas atau transfer ke rekening yang memang dipastikan bukan penipuan, jumlah sumbangannya semampuku, dan nggak dipaksa.

Ada yang punya pengalaman begini juga?

46 thoughts on “Pengalaman ditodong sumbangan, imbalannya voucher gratis

  1. hamba alloh January 15, 2017 / 10:25 pm

    Iya benar aku juga pernah ditipu ! Sayang seribu sayang sudah kena tipu , dengan voucher gratis katanya ini bu ada voucher gratis saya bilang saya g mau akhir nya dia kasih trus vuocernya ini ada hadiahnya bu kita ambil bu hadiah nya ,singkat critanya ahirnya aku mau ,
    Beda pengalaman dari situ sih singkat crita alhirnya dia bilang ada saratnyA katanya ibu harus bayar dulu 10.999 000 rb buat gsk voucher nya aduh kesal seribu kesal crtanya panjang saya g tau kenapa akhirnya saya kasih ternyata hadiahnya bukan yg diharapkan .uang pun juga yg dikumpulin bertahun tahun buat anakku yg berkbutuhan khusus malah ke situ jadinya apa boleh buat sudah nasib …nasi sudah jadi bubur .ya allah aku jadikan ini pelajaran berharga buat saya .., innalillahi wainna ilaihi rojiun

  2. Chika December 4, 2016 / 6:34 pm

    Ternyata banyak juga ya yg gini, Aku udah berkali-kali ditawarin dan kena 2x. Yang aku heran mereka beda yayasan tapi cara ngomongnya tuh sama bgt loh seakan-akan kayak ada “perkumpulannya” gitu ya. Dari omongan awal semuanya sama apalagi yg aku ga suka pas dia bilang “100rb bagi kaka pasti kecil bla bla” padahal uang aja aku masih minta ortu dan 100rb bisa buat berapa hari, pokoknya kalo aku liat2 mereka nyarinya orang yg lagi sendiri gitu deh. Terakhir aku ditawarin pas lagi makan (otomatis mau ga mau harus nanggepin) dan langsung aku bilang “aku udah beli” dia tanya lagi “beli berapa kak?” Aku bilang aja “beli 2 tuh” padahal aku ga beli2 lagi sebenernya haha eh dia bilang “masa sih?” Sambil nada ngeremehin gitu, terus aku bilang “ya emang iya” aku ketusin lg aja kesel terus akhirnya dia pergi juga. Kalo 10% dipakai sumbangan, 90% uang kita dipake mereka dong kalo gitu. Niat menyumbang jadi disalahgunain gini ya kak. Oh iya dia ngakunya sih mahasiswi fikom di pts bandung yg berbeda, buat tugasnya gitu. Heran ya beda pts bisa sama tugasnya. Dan aku pikir kalo cara mereka yg sama gini jadi mirip “mlm” deh

    • F Vian (MySuperLounge) December 4, 2016 / 6:58 pm

      Namanya juga lagi “menjalankan tugas”, pasti maksa, kalo nggak maksa khan nggak dapet mangsa hehehe.
      Andai aja mereka sopan pasti orang ada yang mau nyumbang

Apa komentarmu?

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s